Belakangan ini, muncul sebuah video tiktok yang sedang viral yang membahas mengenai prinsip slow fashion. Beberapa pemahaman influencer dikritik karena adanya anggapan bahwa slow fashion tetap bisa diterapkan apabila seseorang membeli pakaian fast fashion, tetapi dengan frekuensi yang sedikit. Salah satunya akun tiktok.com/@dosen_fashyun ikut menyuarakan hal ini.
Apakah benar fast fashion bisa ditolerir apabila pembelian dan penggunaannya dalam jangka waktu yang lama? Faktanya adalah tidak. Here’s why:
Istilah “fast fashion” telah menjadi perbincangan utama terutama karena dampaknya terhadap keberlanjutan dan kesadaran lingkungan. Istilah ini merujuk pada pakaian yang diproduksi dan dihargai murah yang meniru gaya trendy dan segera disalurkan melalui toko-toko untuk memaksimalkan tren saat ini.
Tiga dari setiap lima item fashion berakhir di tempat pembuangan sampah, menurut kampanye Baju Bersih. Saat ini, pakaian dianggap sebagai barang sekali pakai dan seringkali didonasikan, tetapi bahkan dalam hal itu, akhirnya pakaian tersebut berakhir di tempat pembuangan sampah atau dibakar. Menurut earth.org, setiap tahunnya 92 juta ton sampah tekstil berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Jika tren ini berlanjut, jumlah limbah fast fashion diperkirakan akan melonjak hingga mencapai 134 juta ton per tahun menjelang akhir dekade ini.
Industri fast fashion juga seringkali mengorbankan keselamatan para pekerjanya. Kebanyakan industri fast fashion terletak di Asia dan di negara berkembang, seperti Bangladesh, India, bahkan Indonesia.
Biasanya mereka mempekerjakan perempuan perempuan yang berpendidikan rendah, muda, dan imigran. Para pekerja harus bekerja selama 14 jam/hari, upah rendah, tidak ada jaminan asuransi jiwa atau jaminan keselamatan kerja, serta harus bekerja dalam kondisi yang berbahaya untuk memproduksi produk fast fashion.
Dari pengertiannya sendiri dapat disimpulkan bahwa sistem dari fast fashion itu sendiri merugikan para pekerjanya dan berdampak negatif secara langsung kepada lingkungan. Perusahaan-perusahaan tersebut yang seharusnya bertanggung jawab secara penuh atas konsekuensi yang dihasilkan.
Alasan utama mengapa perusahaan bertanggung jawab atas fast fashion adalah karena tidak semua konsumen dapat menghindarinya. Banyak konsumen tidak mampu membeli pakaian yang diproduksi secara etis. Untuk mengatasi ini, para aktivis telah mendorong konsumen untuk berbelanja di toko pakaian bekas. Meskipun ini mungkin tampak sebagai pilihan yang layak, hal ini mengabaikan sejumlah kelompok konsumen lainnya. Berbelanja di toko pakaian bekas tidak inklusif untuk semua ukuran tubuh, memerlukan waktu luang yang berlebihan, dan seringkali tidak dapat diakses oleh individu dengan disabilitas.
Selain itu, konsumen seharusnya tidak disalahkan atas jalan pintas yang tidak etis yang diambil oleh perusahaan fast fashion untuk memaksimalkan keuntungan mereka. Pakaian baru yang terjangkau dan diproduksi secara berkelanjutan dan etis tidak tersedia bagi konsumen saat ini. Perusahaan fast fashion telah memilih untuk mengabaikan dampak buruk yang mereka timbulkan pada lingkungan dan pekerja mereka karena terus membuktikan bahwa keuntungan adalah prioritas utama mereka.
Sebagai seorang konsumen, kamu bisa mengurangi dan menghindari dampak dari fast fashion dari hal-hal kecil. Hindari membeli dari brand fast fashion dan mulailah investasi pakaian kamu dari brand fashion yang berkelanjutan. Lebih baik lagi apabila kamu mengurangi frekuensi membeli pakaian dan belilah barang-barang dengan kualitas tinggi agar lebih tahan lama.
Tidak ada satu pilihan yang dapat menjadikan industri fashion menjadi lebih berkelanjutan, tetapi kombinasi dari beberapa kemungkinan dapat mengurangi dampak negatifnya terhadap lingkungan. Belanja dari toko-toko online barang bekas dan menyewa baju merupakan alternatif mudah bagi konsumen untuk melawan produksi berlebihan dan mengurangi jejak karbon pribadi mereka.
Penulis: Elysia