Artikel & Berita
"Mari Mengenal Apa itu Friday For Future"
Admin 2023-06-16 Jakarta, Indonesia

Sebagian Wilayah di Indonesia Terancam Kekeringan Ekstrem akibat Puncak El Nino 2023

Para Ilmuwan di Amerika Serikat telah mengonfirmasi bahwa fenomena El Nino telah dimulai di Samudra Pasifik, dan mereka mengkhawatirkan fenomena ini akan semakin mendorong batas ambang suhu global, yaitu 1,5 derajat Celcius, akibat krisis iklim yang semakin tidak terkendali. Hal serupa turut disampaikan oleh World Meteorological Organization (WMO) bahwa kemungkinan terjadinya El Nino pada akhir tahun ini semakin meningkat, yaitu menjadi sekitar 70% pada Juni s.d. Agustus dan 80% antara Juli dan September.

Indonesia yang terletak di antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia tentu akan merasakan dampaknya dengan beberapa wilayah diprediksi mengalami curah hujan di bawah normal atau lebih kering dari kondisi normalnya, yaitu hanya mencapai 20 mm per bulan. Beberapa wilayah lainnya bahkan akan mengalami kondisi tanpa hujan sama sekali (0 mm/bulan). Puncak El Nino di Indonesia diprediksi akan terjadi pada Agustus 2023 yang dapat memicu kekeringan di sekitar 560-870 ribu hektar lahan.

BMKG sendiri telah memprediksi 32 wilayah yang akan mengalami kekeringan ekstrem pada Agustus 2023, yaitu sebagai berikut:

  1. Sumatera: Aceh, Bangka Belitung, Bengkulu, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Lampung, dan Sumatera Selatan.
  2. Jawa: Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur.
  3. Kalimantan: Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara.
  4. Sulawesi: Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gotontalo, dan Sulawesi Utara.
  5. Bali dan Nusa Tenggara: Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
  6. Maluku dan Papua: Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Selatan.

Dan saat ini beberapa daerah di Indonesia telah dilanda kekeringan akibat El Nino, antara lain adalah Kabupaten Bogor, Kabupaten Gunungkidul, Kabupaten Lombok Tengah, dan Nusa Tenggara Barat. Warga di Desa Kalong Liud, Kabupaten Bogor, mengaku kelangkaan air bersih dan kekeringan yang terjadi tahun ini lebih parah dari tahun sebelumnya. Bahkan, sebagian kecamatan di Nusa Tenggara Barat telah memasuki level siaga dan sebagian lainnya telah memasuki level waspada.

Berdasarkan hal tersebut, maka sangat penting bagi pemerintah setempat untuk meningkatkan sistem pengawasan dan peringatan dini terkait kondisi kekeringan, sehingga dapat membantu dalam mengambil tindakan yang tepat waktu. Hal ini melibatkan pemantauan dan analisis yang cermat terhadap indikator-indikator cuaca, iklim, dan kekeringan yang dapat mengidentifikasi ancaman yang mungkin terjadi. Selain itu, perlu ditingkatkan ketersediaan air di wilayah-wilayah rentan melalui pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur penampungan air, pengelolaan air hujan, dan upaya konservasi air. Penggunaan air yang efisien dan bertanggung jawab juga harus diterapkan dengan mengadopsi praktik-praktik irigasi yang efisien, mendukung pertanian berkelanjutan, dan mengurangi penggunaan air yang berlebihan.

 

Penulis: Leonyta Anggun